Pengantar Penulis
Mau jadi penulis? Gampang saja. Kata Pak Kuntowijoyo resepnya cuma tiga biji: Menulis, Menulis, dan Menulis. He..he..he.. ini nggak bercanda sobat. Suer, ini beneran.
Seperti halnya dalam teori pemasaran, tempat adalah faktor utama dari
semua unsur pendukung penjualan. Itu sebabnya, sering kali praktisi
pemasaran berseloroh ‘ngeyel’ saat ditanya apa saja syarat utama
berjualan. Mereka biasanya menjawab; tempat, tempat, dan tempat. Believe it or not, yang pasti telah terbukti banyak yang merasakan kesuksesannya. Silakan dijajal.
Sobat muda, menjadi penulis itu memang menyenangkan kok.
Saya berani jamin, bahwa dengan menulis, kita bisa memberikan informasi
kepada orang lain. Bukankah itu hal yang menyenangkan? Lebih
menyenangkan lagi jika apa yang kita tulis mudah dipahami pembaca dan
membuat pembaca merasa kudu terlibat dan melibatkan diri sepenuhnya dengan apa yang kita inginkan.
Seperti halnya berbicara, minat untuk menulis pun perlu dikembangkan
dan diasah keterampilannya. Bahkan ada sedikit kelebihan menulis dari
sekadar bicara. Kalo kita bicara dalam sebuah forum; entah
seminar, pengajian umum, atau mungkin tabligh akbar, pendengar kita agak
terbatas. Ya, di forum itu. Mungkin jumlahnya ribuan atau boleh jadi
puluhan ribu. Tapi, tulisan bisa dibaca oleh ratusan ribu atau bahkan
jutaan orang dalam waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Tentu, jika
tulisan kita nangkring di media cetak beroplah besar atau nyantol
di dunia cyber yang memungkinkan pembacanya dari seluruh pelosok dunia.
Tentu dengan catatan, jika situs tersebut amat dikenal orang seantero
dunia.
Mungkin di antara kamu ada yang interupsi; tapi pembicara juga bisa
didengar jutaan, atau bahkan ratusan juta orang di seluruh dunia. Betul.
Dengan catatan, jika itu disiarkan via televisi (dibantu satelit). Oke. Itu nggak salah. Tapi, tulisan masih tetap unggul. Kok bisa?
Benar. Tulisan lebih jauh dalam menyentuh dan menggali unsur-unsur
informasi dari apa yang kita tulis. Itu sebabnya, menulis memerlukan
keterampilan khusus agar bisa memberi kontribusi besar untuk pembaca.
So, nggak ada salahnya kamu mulai menimbang-nimbang minat menjadi penulis. Kalo
boleh saya memberi saran, jadilah penulis. Sebab, menulis bisa
dilakukan oleh siapa saja, dan dari kalangan mana saja. Kamu tahu Pak
Faisal Baraas? Yup, beliau adalah seorang dokter yang amat
rajin menulis sehingga tulisan-tulisannya menyabet dua penghargaan
bergengsi — yang menebar manfaat. Dalam bukunya Catatan Harian Seorang Dokter,
beliau bercerita tentang kehidupan sosial para pasiennya yang
berkonsultasi kepadanya. Ketika menuliskan catatan-catatan hariannya,
Pak Faisal Baraas sama sekali tidak membicarakan darah dan bedah,
penyakit yang menyiksa, ataupun obat dan terapi yang harganya setinggi
langit. Dia berbicara tentang, dan mewakili, manusia. Misalnya, pada
suatu saat, dia mewakili seorang ayah yang cemas akan masa depan
anaknya. Hampir semua “wajah” yang diwakilinya dia peroleh dari
perbincangan akrabnya dengan para “tamu” yang berkunjung ke
polikliniknya.
Penulis yang masih berprofesi utamanya sebagai dokter, bisa diseut
Marga T. dan Mira W, kedua nama ini telah mengisi blantika cerita fiksi
Indonesia. Dan semakin menegaskan bahwa menulis bisa dilakukan siapa
saja. Yakin deh kalo kamu bisa.
Jauh sebelumnya, para ilmuwan Islam sudah membukukan karya mereka. Apakah kamu kira Ibnu Khaldun bukan penulis? Wow, bukunya yang fenomenal, Mukaddimah
mengantarkannya bukan saja sebagai sosiolog ulung, tapi juga penulis
handal. Kamu tahu Ibnu Rusyd? Beliau, selain sebagai filosof, dokter,
dan ahli fikih Andalusia, juga lihai dalam merangkai kata-kata menjadi
kalimat yang enak dibaca dan mudah dipahami. Ia menuangkan buah
pikirannya dalam bentuk buku dengan ragam bidang. Bukunya yang
terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata. Hebat bukan?
Jadi, sekali lagi saya katakan bahwa menulis itu bisa dilakukan oleh
siapa saja, dan dari kalangan mana pun. Dan itu benar-benar
menyenangkan. Syarat utamanya mudah, yakni tidak buta huruf
(he..he..he..).
Oya, buku ini saya buat dengan gaya bahasa yang moga-moga mudah kamu pahami. Mungkin ada di antara kamu yang protes; kenapa tidak pake EYD nulisnya? Bukankah kita kudu
taat EYD? Kamu benar, tapi juga kurang bijak. Kenapa? Karena pembaca
remaja adalah segmen yang paling sulit ditembus jika para penulis ngotot
menggunakan bahasa yang ‘resmi’ dan kaku. Itu sebabnya, saya
menyampaikan dengan bahasa yang sudah ‘dipermak’ dan disesuaikan dengan
gaya remaja. EYD tetap ditaati, khususnya dalam tanda baca, penggunakan
huruf kapital, dan penulisan kata kerja dan waktu atau tempat. Sementara
dari segi istilah dan ungkapan, saya mempertahankan gaya bahasa remaja.
Itu pun sebatas sebagai jembatan untuk mengkomunikasikan maksud saja.
Itu sebabnya, nanti akan banyak kamu jumpai tulisan yang dicetak miring
sebagai tanda bahwa itu bukan bahasa baku. Tapi hanya sebatas bahasa
pergaulan aja. Tapi kalo saya udah kasih tahu di sini, jika nanti kamu nemuin lagi kata itu tanpa dicetak
miring, berarti udah dianggap bahwa itu memang bukan kata baku. Biar
nggak terlalu banyak yang dicetak miring (karena memang tidak akan
mempengaruhi harga buku ini jadi ‘miring’, he..he..he..)
Buku ini memuat 25 tip menulis. Hasil perpaduan saya dalam mengamati,
mempelajari, dan tentunya pengalaman saya dalam mempraktikkan setiap
tip tersebut. Boleh dibilang ini adalah perpaduan antara teori dan
praktik yang pernah saya lakukan. Itu sebabnya pula, angap saja ini
sebagai sharing pengalaman. Dari 24 tip dalam buku ini adalah
teori yang kudu dipraktikkan, sisanya adalah motivasi. Sebab, tanpa
motivasi yang kuat, lebih baik keinginan menjadi penulis dikubur saja. Nggak usah diteruskan. Percuma. Betul?
Sebelum mengakhiri pengantar ini, ijinkan saya untuk menyampaikan
rasa syukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan kemudahan dalam
menyusun buku sederhana ini. Nggak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada Kang Arif B. Iskandar, General Manager Penerbit IDeA Pustaka Utama yang udah
memberi jalan mulus bagi saya untuk menerbitkan buku ini. Istri saya,
yang selalu rela menemani hampir setiap malam untuk menyelesaikan buku
ini. Makasih untukmu. Juga rekan-rekan di milis majalah-permata,
buletin-studia, dan FLP yang telah memberikan semangat kepada saya untuk
membukukan tulisan-tulisan ini (beberapa dari tip ini sudah di-posting ke maling list tersebut, dan sambutannya cukup bagus). Ini adalah edisi lengkapnya.
Akhirnya, nggak ada gading yang nggak retak.
Masukan berupa saran dan kritik sangat diharapkan untuk meningkatkan
kualitas penulisan di masa datang. Buat kamu, selamat membaca dan
mempraktikkan. Ayo, kamu bisa. Tetap semangat!
Komentar
Posting Komentar