Langsung ke konten utama

Fre(qu(e)en)ce Part 1 - #Novela Batch 2


Yogyakarta, 20 Juli 2017
Dinginnya rembulan di atas angkasa 

Hi! Lama tak besua dalam blogger, lama tak mengetik alur cerita di atas keyboard membuat jemari yang telah kaku ini mencoba dan berusaha menepati janji yang lalu.. Sebenarnya cerita yang author post ini udah lama ada dalam folder sejak bulan sepuluh tahun 2016, yup dua tahun yang lalu tepat ketika hati sedang gelisah dan jemari masih lentik untuk menari di atas keyboard...mungkin author akan memposting cerita ini menjadi beberapa part karena authorpun sempat kaget ketika melihat banyaknya halaman cerita ini (kenapa gue bisa nulis sebanyak itu ._.)
Semoga kalian tak bosan-bosan membaca tulisan karya orang amatir yang ingin melipir menjadi penyair ini :) semoga nyaman dalam membacanya..Sekian..Luv!


 Zena
       “Uhuuuuk! Zen, lo serius bakal pindah ke Solo?” ia meletakkan frappuccino di table ketika aku mengatakan akan pindah untuk satu tahun kedepan hingga menghabiskan masa putih abu-abuku.
            “Gue juga nggak yakin sih Rin, tapi you know lah yaa. Jakarta? Apa yang gue dapat di sini? asep hitam Trans Jakarta?”
            “Nggak usah lebay deh lo, dibalik gaya hygiene lo itu. Gue tahu hidup lo ibarat anak kos sebatang kara yang makannya cuma indomie padahal lo tinggal di cluster mewah dengan segala fasilitas yang memadai. Gue tahu lo kesepian Zen,”
            Tinggal di kota metropolitan menjadi masyarakat urban dengan gaya hidup serba glamour. Hiruk pikuk benda besi di jalan aspal panas, yang terkadang menyemprotkan tinta hitam semaunya hingga akhirnya polusi dimana-mana. Bukan itu sebenarnya alasanku ingin menjadi imigran ke kota yang lebih mini. Menjadi seorang anak tunggal keluarga super sibuk dalam berkarir, tinggal di rumah tanpa memiliki banyak waktu dengan orang terkasih.
Bayangkan saja, sebagai surgeon Papa praktis selalu hidup di ruang operasi, vice president salah satu bank terbesar di Indonesia Mama selalu dinas ke luar kota. Pulang kerja di atas jam 12 malam, bahkan terkadang sampai tak pulang seharian. Bertemu untuk sekedar menyapa saja sulit apalagi untuk quality time bersama. Aku mulai bosan berada dalam situasi seperti ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke rumah nenek di Solo dalam satu tahun kedepan. Sifat masa bodoh dan egoisnya kedua orangtuaku ternyata masih bertahan, mereka bahkan tak mau mengambil izin untuk sekedar mengantarku ke stasiun.
            “Rin, besok temenin gue ke senen yee,” sambil menyendok panna cotta di depanku.
 “Emang bokap nyokap lo nggak nganterin?” aku cepat melotot.
“Karina Kumolowongso,” nadaku mempertegas.
“Iyee non gue anterin besok, bola mata lo tuh mau copot. Gue heran deh sama lo, punya mata sorot tajem gitu banyak juga laki yang ngincer.” ia menunjuk mataku dengan gayanya yang centil. “Ngapain lo, kelilipan?” tambahnya, ketika aku megedip-nedipkan bulu mataku yang super lentik ini.
            Kedipan itu kembali menajadi sorotan tajam ketika Ian datang bersama Ara. Who is Ian ? Ian Wijaya, sah menjadi mantan pacar enam bulan terakhir, kami putus setelah aku melihat Ian selingkuh dengan sahabat baikku di Pondok Indah Mall. Dua minggu pacaran start di PIM finish di PIM, aku bertemu Ian saat itu ketika jewellery fair. Aku menemani Ara untuk membeli cincin emas. Bukan Ara namanya kalau tidak mengunjungi semua booth, dasar jiwa emak-emak.
            “Ra, gue nunggu lo di sini aja ya, capek gue.” aku duduk di sofa persegi yang disediakan.
“Yahhh..nggak asik lo Zen. Yaudah sih, jangan pergi-pergi lo ya,” aku mengangguk dengan muka setengah sebal. Ara berlalu entah kemana melebur bersama ratusan emak-emak lainnya.
            “Zena ya?” seorang laki-laki yang mukanya familiar mengagetkanku dan mengulurkan tangan kanannya, aku menginggat wajahnya perlahan kebingunggan.
“Iannnnnnn,” aku menginggatnya teman SDku dulu. “Gue kira lo lupa Zen, nggapain di sini?”
            “Nunggu temen Yan, lo sendiri ngapain di sini?”
 “Bingung gue Zen, mau beliin kalung buat nyokap. Eh temenin aku nyari model yang pas yuk.” sebenarnya aku malas untuk berjalan lagi, tapi entah kenapa kakiku ingin menemani Ian.
“Yaudah Yan aku temenin, kok kamu nggak sama pacar kamu aja sih?” entah sejak kapan aku mulai mengubah gue-lo menjadi aku-kamu dengan Ian.
Seminggu selah aku bertemu dengannya, Ian kembali mengajakku lunch di PIM sepulang sekolah, lantas ia menjadi pacarku. Dua minggu bertahan, aku bertemu dengannya kembali di PIM. Saat itu aku dan Karin sedang belanja bulanan, emak-emak banget ya kan. Mataku tertuju kearah eskalator, nampak sesosok pria yang kukenal bersama seorang wanita yang kukenal. Di situlah hubunganku berakhir dengannya. Just for your information, sebenarnya sebelum dengan Ian aku sudah dua kali merasakan kasus seperti ini, mengetahui kekasihku selingkuh dengan wanita lain. Oh God, I’m so stupid. Oleh karenanya sudah enam bulan ini aku menutup hatiku untuk tidak dating dengan pria lain.
            “Zen, itu si Ian kan, mantan lo itu. Gila ya Ara dengan tampang polosnya ternyata nikung elo, nggak nyangka gue.” Karin mengikuti arah mataku menatap Ian dan Ara. “Kok lo masih mau-maunya temenan sama Ara. Udah jelas-jelas mereka main backstreet-backstreetan sama lo. Sebenernya elo yang kasihan sama dia, apa elo yang nggak punya temen lain sih?” sontak aku melemparnya dengan majalah girls yang berada di tanganku.
 “Dasar lo, kalo gue nggak punya temen elo itu apa Karina? Budak gue?”
            Jujur walaupun hatiku membenci Ara dan Ian, namun wajahku tetap harus menghilangkan rasa benci itu. Jika memang ada yang harus tersakiti, biarlah aku yang menaggung rasanya. Wajahku dapat mendusta, hatiku tak akan pernah mendusta. Dengan muka yang kata Karin super player, bukan Zena Kusumanegara namanya kalau belum mampu menjadi kusuma negara bagi orang-orang disekelilingnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Bahasa Inggris Recount Text

  1.       RECOUNT   Social function: to retell events for the purpose of informing or entertaining Generic structure ·          Orientation            :   provides the setting and introduces participants                                 (when, and where) ·            Events                   :   tell what happened in a chronological order ·            Re-orientation     :   optional-closure of events Recount texts tell a series of events and evaluate their significance in some way. Language Fea...

Materi Bahasa Indonesia Kelas XI BAB 19 Frasa

19. Frasa Frasa adalah kesatuan yang terdiri atas dua kata atau lebih yang masing-masing mempertahankan makna dasar katanya dan tidak melampaui batas dan fungsi. Sebuah frasa mempunyai suatu unsur inti atau pusat, sedangkan unsur lain disebut penjelas. Contoh: petani muda, tepi sawah, dan lereng gunung. Kata petani, tepi dan lereng adalah unsur inti sedangkan muda, sawah, dan gunung disebut penjelas

Materi Bahasa Indonesia Kelas XI BAB 3 Hikayat

3. HIKAYAT Dick Hartoko dan B. Rahmanto (1985:59) mengatakan bahwa hikayat adalah jenis prosa, cerita Melayu Lama yang mengisahkan kebesaran dan kepahlawanan orang orang suci di sekitar istana dengan segala kesaktian, keanehan, dan mirip cerita sejarah atau membentuk riwayat hidup. Contoh: - Hikayat Indera Bangsawan; - Hikayat Iskandar Zulkarnaen; - Hikayat Bayan Budiman