Yogyakarta, 25 Juli 2018
Hiruk Pikuk Bintang di Langit Malam
Pssttt.....ada tokoh baru lho di part ini, siapakah gerangan? boleh disimak yaa gengs, siapin tempat yang paling nyaman. semoga part ini renyah dibaca. Luv!
Zena
Saturday,
7.40am. Lagit cerah Jakarta, tanpa sepatah kata kuucap pada Papa dan Mama.
Hanya hitam di atas putih yang kuletakkan di atas meja, entah dibaca atau tidak
atau bahkan tidak dilihat aku tak tahu. Doaku hanya satu semoga mereka cepat
sadar. Layar ponselku tak menunjukkan reaksi apapun untuk nama Papa dan Mama,
hanya pesan masuk dari Ara agar tak lupa berdoa sebelum pergi. Aku memang masih
berhubungan dengan baik dengan Ara sekalipun ia bersikap tak baik denganku di
mata orang lain, aku ingin hidup di atas persaudaran bukan di bawah permusuhan.
Yakin atau tidak aku pergi untuk
meninggalkan rumah ini, yang kuucap hanya Bismillah
dalam hati.
“Zen,
Papa Mama lo udah setuju elo pindah ke Solo?” Karin serius menatap cermin mobilnya
sambil mengoleskan mascara di bulu matanya. Heran juga sama anak satu ini belum
punya SIM aja masih nekat pake make up sambil nyetir.
“Sebenarnya
gue juga bingung ini pindah atau dibuang atau diasingkan, mereka cuma bilang
‘iya’ tanpa ada lanjutan kalimat lainnya. Elo liat sendiri weekend gini aja masih kerja. Udah lah ini bukan masalah mereka
setuju atau nggak. Masalahnya sekarang gue bentah nggak di sana, bakal ada
kehidupan nggak di sana. Itu…….,” ucapanku terpotong saat mobil Karin ngrem
mendadak, “Kariina! gue bilangin sama lo udah deh nggak usah maen-maen make up kalo lagi nyetir!”
“Sorry
Zen, maaf sumpah nggak sempet gue tadi mau dandan,” mataku menuju arah dashbor yang terbuka sesaat setelah rem
mendadak,
“Rin, lo masih aja
nyimpen foto gembel gini,” aku melihat cetakan polaroid saat aku, Ian, Ara, dan
Karin hangout ke Bogor saat liburan
semester lalu.
“Gembel gembel juga lo
bisa nyantel sama Ian,”
₪₪₪
Peron
stasiun menjadi saksi bisu tempatku untuk segera beranjak pergi, gerbong 2
tempatku menginjakkan kaki, mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang
tercetak. Karin langsung pergi ketika aku sudah sampai stasiun, hampir saja aku
terlambat karena tragedi rem mendadak tadi.
Aku
mengeluakan ponselku, tetap tak ada pesan masuk dari Papa dan Mama, apakah
mereka masih berpikir punya anak atau tidak sih. Mereka lebih mementingkan
kesejahteraan orang lain ketimbang anaknya sendiri.
Kepalaku sontak
mengingat apa yang dikatakan Darwin pada teori evolusi, ketika jerapah berleher
pendek akan mati karena tidak mampu bersaing dalam memperoleh makanan maka
jerapah berleher panjang akan tetap bertahan hidup. Akankah aku menjadi jerapah
berleher pendek atau berleher panjang di Solo nanti, entahlah.
Jakarta, aku tak akan
melupakanmu, ini hanya sementara hanya satu tahun itupun jika aku bertahan. Aku
mengeluarkan earphone dari dalam tas,
memutar lagu dalam playlist. Box besi
ini melaju membawaku dan penumpang lainnya meninggalkan Senen. Aku membenamkan
mata sejenak untuk menghilangkan pening di kepalaku.
₪₪₪
Xelo
Jakarta, Saturday 12.21am. Aku melihat jam pada
Sony Xperia, gadis yang duduk disampingku sangat lelap dalam tidurnya. Ia
menyenderkan kepalanya ke pundakku tanpa sengaja, aku merasa kasihan padanya
sepertinya ia sangat lelah. Perlahan aku memindahkan posisi kepalanya dari
bahuku. Volume suara earphone yang
dikenakannya sangat keras, aku berusaha melepas earphonenya, namun ia menolak dengan mengigau.
Tiitt!
Tiiitt! Aku mengangkat telefon dari ibu dengan
malasnya.
“Xel, yen wes nyampai nanti langsung ke rumah
yo, ndak usah mampir-mampir radio,”
perkataan palsu! ibu yang seharusnya tak pantas kusebut ‘ibu’. Maaf kalau
terdengar seperti anak durhaka, wanita yang sudah merebut posisi ibu kandungku,
ya dia ini. Entah kenapa, bapak juga rela melepas ibu dan mechange dengan wanita ini.
“Hmmmm..,” aku
mengakhirinya beberapa detik kemudian. Aku memejamkan mata, untuk beberapa jam
kemudian hingga kereta ini tiba di Balapan nantinya.
₪₪₪
Teng!Teng!Teng!
Lonceng stasiun Balapan yang begitu kencangnya
membangunkanku dari lelap, aku melihat gadis disampingku menyenderkan kepalanya
di bahuku dan ia masih tidur. Aku memindahkan posisi kepalanya berusaha
membangunkannya, namun ia tetap belum sadar juga. Aku beranjak pergi.
From : Ibu Sihir
Le, sudah nyampai belum ? Ibu sudah nunggu
di parkiran mobil
Belum sempat aku
membalas SMSnya, “Tungguuu,” gadis tadi menarik lenganku dengan mata setengah
terbuka. Dia bengong sejenak dengan tampang kebingungan.
“Emm, ini sudah sampai
Solo belum ?” Aku menunjuk kaca gerbong melihatkanya situasi luar.
Dia mengkuti arah telunjukku, “Oh udah di Balapan
ya ?”
“Hmmmm..,” aku beranjak
pergi meninggalkan gerbong.
“Tunggguuu,” gadis itu
kembali menahanku untuk pergi. “Mas, tau alamat ini dimana ?” Dia menyodorkan
ponselnya.
“Iya, Ikut saya aja,”

Komentar
Posting Komentar